PERISTIWA 10 November 1945 yang sekarang dikenal sebagai Hari Pahlawan, merupakan satu peristiwa heroik segenap rakyat Indonesia, dalam mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikannya, pada 17 Agustus 1945.

Dalam hal ini, Bung Tomo teringat perang Jepang melawan China, tahun 1931. Ketika itu, Jepang ingin menguasai Mansuria. Dalam pertempuran dengan rakyat Tiongkok itu, opsir Nippon Nakamura tewas. Tidak terima serdadunya tewas, Jepang mengancam akan menuntut balas.
 Hingga 10 November 1945 pagi, rakyat yang siap angkat senjata pun masih menunggu. Hingga akhirnya tersiar kabar, sekira pukul 09.00 WIB lebih, seorang pemuda melaporkan terjadi penembakan oleh pasukan Inggris.

Peristiwa yang ditunggu-tunggu pun tiba. Masing-masing pasukan pemuda, dikerahkan ke pos dan pangkalan yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Pertempuran hebat pun terjadi. Moncong senjata memuntahkan pelornya. Segenap rakyat berjuang bersama. Tidak ada perbedaan golongan, tingkatan, agama, dan paham. Ketika satu Indonesia terancam, satu bangsa Indonesia akan membelanya.

Inilah hakikat dari peristiwa bersejarah itu. Di mana semua rakyat menjadi satu, dan melupakan semuanya, kecuali Republik Indonesia. Perorangan tidak berlaku pada hari itu. Pemerintah, tentara, rakyat, melebur jadi satu.

Kepada segenap rakyat Indonesia yang telah berkorban saat itulah, gelar pahlawan layak disematkan. Selamat Hari Pahlawan.
Gambar diatas merupakan tugu yang terjadi pada 10 November 1945
Tugu tersebut juga mudah ditandai. Bentuknya segi enam dengan panjang mencapai kurang lebih 3 meter. Di atas tugu yang berwarna dasar putih les merah ini ada replika tangan manusia yang mengepal.Tugu tersebut juga mudah ditandai. Bentuknya segi enam dengan panjang mencapai kurang lebih 3 meter. Di atas tugu yang berwarna dasar putih les merah ini ada replika tangan manusia yang mengepal.
Menurutnya, tugu 10 November menandakan solidaritas yang begitu kuat dari masyarakat Tarakan untuk tetap berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), meski berada di Kalimantan. Tugu tersebut juga sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut.
“Ternyata masyarakat Tarakan juga punya semangat itu, jiwa kemerdekaan. Kan pada waktu itu semboyan yang diajarkan Bung Karno (Presiden pertama RI) adalah merdeka atau mati. Semboyan itu ternyata sampai di Tarakan, wujudnya dibangunlah tugu penghormatan pahlawan 10 November,” jelasnya.
Tugu 10 November sempat dipugar oleh Pemerintah Kota Tarakan. Namun, kondisinya tidak mengalami perubahan sedikit pun. Hanya penambahan berupa pagar dan pengecetan agar lebih terawat.

Hasil gambar untuk cerita tentang museum di tarakan
Gambar diatas merupakan museum perang dunia Tarakan

Bertambah lagi museum di Bumi Paguntaka. Dua museum yang berisi benda peninggalan Perang Dunia II setidaknya dapat menceritakan masa penjajahan dulu. Museum Perang Dunia II dan Museum Perminyakan Kota Tarakan ini diresmikan pada Kamis (23/11).Wali Kota Tarakan, Sofian Raga, mengatakan museum sebagai wadah bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai sejarah. Sebab jika tidak ada sejarah maka makna kemerdekaan tidak pernah dirasakan masyarakat.Oleh karena itu, benda-benda peninggalan sejarah diabadikan dalam museum, sebagai bentuk nyata dalam menghormati dan menghargai perjuangan para pahlawan. Museum tersebut tidak hanya sebatas pendidikan tetapi sebagai objek wisata sejarah Indonesia.

Komentar